Food for Healthy

Home » Jejak Kuliner » Mengunjungi Pasar Sidoharjo Lamongan

Mengunjungi Pasar Sidoharjo Lamongan

Sebelum memasuki gerbang pintu masuk pasar, kami dapati sederetan penjual buah di sebelah kiri dan penjual sayur di sebelah kanan. Jenis buah yang ditawarkan diantaranya buah belimbing, sirsak, bengkuang, semangka, dan mentimun. Melihat buah belimbing yang besar-besar dan berwarna kuning menawan, membuat kami ingin segera mencicipi betapa segarnya. Meski masih pagi-pagi, tetapi hiruk-pikuk suasana pasar pasti akan memuat badan capek dan kehausan. Tak ada salahnya sebagai persiapan berkeliling pasar, kami membeli sekilo buah belimbing.

Bergeser kesebelah kanan, kami lihat bermacam-macam sayur diikat menjadi ikatan yang pas dengan harga jualnya. Ada sayur hijau berdaun, tetapi tak sedikit juga kami dapati jenis sayur buah, seperti lobak dan mentimun. Dilihat sekilas, jumlah jenis sayur di Pasar Sidoharjo memang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan pasar sayur di kota-kota dataran tinggi atau supermarket. Hal ini wajar saja mengingat Kabupaten Lamongan merupakan daerah pesisir yang beriklim panas, sehingga jenis sayur yang banyak ditanam bukanlah jenis sayur-daun tetapi lebih banyak berupa sayur-buah.

Melewati pintu gerbang, persis disebelah kiri sudah tertata rapi berbagai jenis jajan pasar khas Lamongan maupun jenis jajan pada umumnya yang ramai diserbu pembeli. Dari yang rasanya manis, seperti apem, bolu kukus, onde-onde, dan kue serabi, sampai yang gurih seperti tahu isi. Banyaknya ragam-jenis jajan pasar tersebut menggambarkan betapa masyarakat Lamongan, terutama para ibu, memiliki kepedulian terhadap potensi bahan pangan mentah yang ada untuk diolah menjadi produk baru yang didukung oleh daya kreatifitasnya yang tinggi.

Berbalik ke-bagian tengah sebelum masuk lorong pasar, tertata rapi gundukan umbi-umbian yang dibiarkan terbuka diatas karung kasang pengemasnya. Sepertinya umbi-umbi itu merupakan hasil panen pribadi milik si penjual, bukan merupakan kumpulan dari para petani yang dikelola lebih lanjut oleh si pengumpul sekaligus penjualnya. Hal ini terlihat dari jumlahnya yang tidak terlalu banyak untuk masing-masing komoditas. Beberapa penjual tidak hanya menawarkan satu macam komoditas, bahkan ada yang mencampurnya dengan komoditas lain berupa sayur dan buah-buahan.

Diantara komoditas umbi-umbian yang banyak dijajakan di Pasar Sidoharjo Lamongan ialah ubi kayu (singkong), ubi jalar, ubi talas, kentang, uwi, dan gadung. Selain itu, sebagai sumber karbohidrat lainnya yang turut dipasarkan ialah jagung dan sukun. Bahkan untuk komoditas jagung, ada yang sudah siap masak, dalam bentuk butiran halus, sehingga pembeli tinggal merebus dan mengukusnya. Beragamnya jenis komoditas yang menjadi sumber karbohidrat ini menunjukan sangat kuatnya pondasi ketahanan pangan masyarakat Lamongan, terutama dalam hal melakukan upaya diversifikasi bahan pangan pokok.

Kemudian, memasuki lorong-lorong pasar, mulai kami temukan beberapa kios yang menjual aneka macam bumbu-bumbu masakan, terutama lengkuas, jahe, kunyit, dan jeruk purut. Keempat jenis bumbu dan rempah ini adalah senjata utama dalam pembuatan aneka macam hidangan khas Lamongan.

Sampai di bagian pinggir pasar, terdapat satu jalur khusus penjaja aneka macam olahan ikan, mulai dari ikan yang masih segar sampai ikan yang sudah diasinkan. Selain itu, berbagai jenis ikan dari mulai ikan air tawar, tambak, dan ikan laut juga ada di pasar Sidoharjo ini. Sayangnya, ikan-ikan itu hanya tersedia dalam jumlah yang relatif sedikit, sehingga pilihan konsumen menjadi terbatas. Barangkali hal ini disebabkan sudah adanya pasar khusus ikan yang berada tak jauh di sebelah utara pasar.

Selain tersedia aneka macam ikan, di sebagian tempat juga menjajakan aneka macam olahan daging seperti daging ayam, daging sapi, babat, dan kikil sapi. Namun jumlahnya kalah jauh bila dibandingkan dengan jenis-jenis ikan diatas. Bahkan tak dijumpai adanya daging kambing yang biasanya selalu ada disetiap pasar kota. Hal ini menunjukan bahwa bahan utama untuk lauk-pauk bagi masyarakat Lamongan ialah ikan, daging sapi, kikil, atau telur, tahu, dan tempe.

Beralih ke bagian paling belakang dari Pasar Sidoharjo terdapat sederetan kios yang menjual aneka macam gerabah dan kerajinan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, terutama dalam memasak dan keperluan sehari-hari. Gerabah yang digunakan untuk memasak diantaranya; tampah, kusan, cething, rinjing, kalo, boran, kompor tanah liat, ciri, muthu, dsb. Adapun barang-barang kerajinan yang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari, diantaranya; tikar, keset, dan celengan.

Dari berbagai macam gerabah dan kerajinan diatas, menggambarkan kejelian masyarakat Lamongan dalam memanfaatkan sumber daya bahan yang ada, untuk diolah dan dibentuk menjadi produk baru yang memiliki nilai guna lebih tinggi. Dilihat dari bahan yang digunakan serta produk akhir yang dihasilkan, proses produksi yang digunakan nampaknya masih tradisional. Yaitu dikerjakan secara mandiri, masih dalam sekala industri rumah tangga. Yang menarik ialah tidak adanya peralatan memasak disini yang terbuat dari kuningan, aluminium, tembaga, atau bahkan stainless steel. Barangkali peralatan seperti itu hanya bisa diperoleh di toko-toko kelontong yang biasanya terdapat di pinggir-pinggir jalan raya kota Lamongan.

Memasuki lorong utama pasar, malah terlihat nampak lengan dan sepi. Yang ada hanyalah beberapa kios yang menjual aneka macam bunga setaman, bercampur dengan aneka macam bumbu rempah tradisional. Kemudian sesampainya didepan pintu keluar, terdapat kios yang menjual aneka macam kerupuk. Hampir ada 30-an jenis kerupuk mentah yang siap dijajakan di kios itu. Sayangnya, dari kejauhan pun sudah bisa terlihat adanya warna yang cukup mencolok, menunjukan digunakannya pewarna tambahan. Meskipun ada juga jenis kerupuk yang masih terlihat asli sesuai warna bahan dasarnya.

Sesampainya kembali di pintu gerbang keluar, yang juga merupakan pintu masuk utama pasar, kini suasananya nampak berbeda. Bahkan terlihat semakin ramai. Jalan raya depan pasar hampir penuh sesak oleh kendaraan bermotor, mobil bak terbuka, becak, dan juga para pejalan kaki. Tak ketinggalan, para penjual-pun ikut berebut area untuk menjajakan produk-produk unggulannya masing-masing. Tidak hanya satu-dua saja, bahkan hampir separoh dari jumlah penjual yang ada di Pasar Sidoharjo, Lamongan ini berada diluar area pasar sebenarnya, yaitu di pinggir jalan. Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian pihak pengelola, untuk menertibkan kembali jalan masuk maupaun keluar pasar, sehingga para pembeli yang akan datang merasa lebih nyaman.

Setalah merasa puas mengelilingi pasar Sidoharjo, Lamongan, kami putuskan beristirahat sejenak. Sambil menikmati beberapa butir jajan pasar, sempat terpikir oleh kami betapa pentingnya keberadaan sebuah pasar bagi keberlangsungan roda perekonomian suatu masyarakat. Tak terhitung, berapa jumlah orang yang kehidupannya digantungkan pada denyut nadi pasar. Mulai dari para penjual, pemasok, petani, para petambak ikan, produsen produk olahan, sampai tukan parkir, tukang becak, dsb. Tanpa adanya pasar, barangkali tidak akan ada denyut nadi kehidupan.


2 Comments

  1. buddy says:

    mohon informasi,ttg dimana tempat pasar sapi di lamongan?, dan buka nya hari apa, jam brp s/d jam brp?.
    trimakasih

  2. salam dari kami buat anda dan orang lamongan.
    salam dari orang lamongan

    info website orang lamongan

    SALAM BALIK JUGA BUAT WARGA LAMONGAN SEMUANYA… KANGEN PENGIN JALAN2 DI LAMONGAN LAGI NEH…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: