Food for Healthy

Home » Food Technology » Penanganan Pasca Panen Buah – Buahan

Penanganan Pasca Panen Buah – Buahan

Buah-buahan merupakan komoditas yang mudah sekali mengalami kerusakan (perishable), seperti mudah busuk dan mudah susut bobotnya. Diperkirakan jumlah kerusakan ini bisa mencapai 5 -25 % pada negara-negara maju dan 20 – 50 % pada negara – negara berkembang (Kader, 1985). Oleh karena itu, untuk mengurangi tingginya prosentase kerusakan pada komoditas buah-buahan ini, perlu dipahami penanganan pasca panen yang tepat, agar ketika buah tersebut sampai ke tangan konsumen tetap dalam keadaan segar (fresh quality). Namun sebelum kita lebih jauh membahas bagaimana penanganan yang tepat terhadap buah-buahan selepas panen, yang perlu diketahui terlebih dahulu ialah jenis-jenis kerusakan, faktor-faktor penentu mutu, dan juga sifat-sifat fisiologis buah-buahan selama pasca panen hingga pengangkutan dan penyimpanan.

Kerusakan pada Buah-buahan
Menurut Hyodo (1991) kerusakan (stress) yang dialami oleh komoditas buah-buahan dapat disebabkan oleh tiga hal yaitu; faktor fisik, kimiawi, dan bilogis. Faktor fisik dapat berupa tekanan, suhu yang terlalu rendah (chilling injury-freezing injury), suhu yang terlalu tinggi, dan komposisi gas atmosfer yang tidak sesuai (anaerob). Sedangkan faktor kimiawi ialah disebabkan oleh polusi udara (ozon, sulfur dioksida, dll) serta pestisida berlebihan. Adapun faktor biologis ialah disebabkan oleh berbagai jenis virus, bakteri, dan jamur.
Oleh Susanto (1994) lebih disempurnakan lagi bahwa kerusakan pada komoditas buah-buahan dapat dibedakan menjadi beberapa tipe kerusakan yaitu; fisiologis, mikrobiologis/biologis, mekanis, fisis, dan khemis.
a. Kerusakan fisiologis
Merupakan kerusakan yang disebakan oleh reaksi-reaksi yang dikatalisasi oleh enzim. Misalnya enzim yang berkerja dalam reaksi katabolik (pembongkaran). Dengan adanya reaksi pembongkaran ini maka jumlah energi yang terdapat pada jaringan buah menjadi berkurang. Akibatnya buah lama-kelamaan menjadi rusak dan busuk. Tanda – tanda lainnya ialah penurunan berat, tekstur, dan aroma.

b. Kerusakan mikrobiologis/biologis
Yaitu kerusakan akibat serangan jamur cemaran mikrobia yang sering menjadi penyakit pada berbagai jenis buah. Misalnya infeksi laten antraknos pada berbagai macam buah-buahan yang disebabkan oleh mikrobia Colletotrichum gloeosporiodes. Keadaan semacam ini akan sulit diatasi, dan terus meningkat hingga terjadi pembusukan.
c. Kerusakan mekanis
Kerusakan ini terjadi apabila dalam proses pemanenan, transportasi, maupun pengangkutan tidak dilakukan dengan hati-hati. Akibatnya akan menyebabkan buah menjadi luka pada kulit luar dan memar. Dengan demikian maka akan semakin mempercepat kerusakan lainnya; seperti kerusakan fisiologis maupun mikrobiologis karena mikrobia menjadi lebih mudah masuk kedalam daging buah.
d. Kerusakan fisis
Kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh suhu penyimpanan yang telalu tinggi (heat injury) atau terlalu rendah (chilling injury), yang masing-masing dapat menyebabkan kerusakan, misalnya adanya noda/bercak-bercak cokelat pada bagian kulit buah. Selain itu, pada penyimpanan yang terlalu rendah tingkat kelembabannya (< 85%), akan mempercepat proses transpirasi, sehingga buah menjadi kusut dan teksturnya menurun.
e. Kerusakan kimiawi
Terutama berkaitan erat dalam proses pengolahan. Misalnya pada proses pengirisan buah apel yang dibiarkan saja, maka akan timbul warna coklat akibat reaksi pencoklatan enzimatis (enzim polifenol).
Selain kelima faktor diatas, sebenarnya masih satu lagi penyebab utama kerusakan pada buah-buahan, terutama pada daerah-daerah yang masih menggunakan sistem tradisional untuk proses pemanenan, yaitu dengan menggunakan sistem tebas, dalam hal ini, buah langsung dipanen serentak tanpa peduli umurnya dan kematangan buah. Meskipun hal ini dapat diatasi dengan mempercepat proses kematangan, akan tetapi kualitas (rasa, tekstur, dan aroma) tetap lebih rendah. Selain itu, dengan dipanennya buah-buah yang masih muda, lebih rentan terhadap kerusakan selama transportasi maupun penyimpanan (kerusakan mekanis).

Faktor-faktor Penentu Mutu Buah
Mutu atau kualitas telah didefinisikan sebagai suatu tanda atau derajat yang membedakan tingkat kesempurnaan atau superioritas suatu produk. Pada komoditas buah-buahan yang dapat digunakan sebagai parameter penentu mutu ada lima faktor yaitu; ketampakan, tekstur, flavor, nilai gizi, dan keamanan (Kader, 1985). Masing- masing faktor terdapat lagi beberapa parameter pendukung yang lebih memperjelas tingkatan mutu suatu produk. Tentu semakin tinggi ”grade”-nya, maka produk tersebut akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu, penjagaan atas mutu dan kualitas ini sangat penting, apalagi pada komoditas buah-buahan yang sangat mudah mengalami kerusakan (perishable).

Sifat Fisiologis Buah – buahan

Setelah panen, buah-buahan akan tetap melangsungkan berbagai macam reaksi kimia maupun enzimatis yang menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat fisiologis buah. Perubahan sifat – sifat fisiologis tersebut diantaranya :
1. Terjadinya pelunakan komponen dan struktur dinding sel kulit buah.
2. Terjadinya peruabahan warna kulit buah akibat menjadi tampaknya beberapa pigmen warna yang menyebabkan kerusakan pada pigmen warna yang lain (masking effect). Misalnya pigmen kuning (lutein) atau pigmen merah (karoten) yang meningkat konsentrasinya sehingga menutupi pigmen hijau pada jeruk.
3. Terjadinya kenaikan kandungan gula dan penurunan kandungan pati. Misalnya pada buah pisang dan apel yang menjadi lebih manis setelah masak.
4. Terjadinya penurunan konsentrasi asam dan tanin yang menyebabkan berkurangnya rasa masam dan sepet (pada sawo manila) .
5. Terbentuknya komponen gas volatil sehingga membentuk aroma khas buah.
Selain perubahan – perubahan sifat diatas, masih ada lagi perubahan sifat lainnya yang diakibatkan oleh terus berlangsungnya berbagai macam reaksi kimia maupun enzimatis pada buah-buahan, diantaranya; proses transpirasi, respirasi, dan produksi etilen. Dalam kondisi tertentu, jika perubahan tersebut tidak dikendalikan akan menyebabkan terjadinya kerusakan (deterioriation).

Transpirasi – Transpirasi atau pengurangan jumlah air merupakan penyebab kerusakan paling mudah terjadi pada komoditas buah-buahan, yaitu susut bobot buah. Selain mengakibatkan penurunan bobot buah, dengan adanya proses ini juga akan menyebabkan penurunan kualitas ketampakan (appearance), kualitas tekstur buah, flacidity, limpness, dan penurunan kandungan nilai gizi.
Kecepatan proses transpirasi ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal komoditas buah (sifat morfologi dan anatomi buah, rasio luas permuakaan dan volume buah, ada-tidaknya cacat/luka, dan tingkat kematangan) dan faktor eksternal (temperatur ruangan, kelembaban udara, sirkulasi udara, dan tekanan atmosfer). Untuk mengurangi kecepatan proses transpirasi tersebut, maka dapat dilakukan dengan cara melapisi kulit buah dengan lilin (waxing) ataupun edible film. Selain itu dapat juga dengan melakukan penyimpanan buah pada kondisi yang kelembabannya cukup tinggi (85 – 95%).

Respirasi – Respirasi merupakan proses pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana dengan menghasilkan CO2, air, dan energi. Dengan tersedianya air dan energi bebas ini, maka akan digunakan oleh mikrobia untuk tumbuh serta menyebabkan terjadinya disorganisasi pada jaringan (sel dinding rusak) atau kerusakan komoditas.
Berdasarkan pola respirasinya, buah-buahan dibedakan menjadi dua macam, yaitu buah klimakterik dan non klimakterik. Buah klimakterik ialah jenis buah yang mengalami kenaikan produksi CO2 dan gas ethilen (C2H4) seiring kenaikan tingkat kematangannya. Sedangkan buah non klimakterik tidak mengalami perubahan signifikan dalam jumlah produksi C02 maupun gas ethilen selama proses pematangan.

Produksi Etilen – Etilen merupakan hormon tanaman yang memiliki perngaruh cukup besar terhadap perubahan fisiologis buah, meskipun hanya dihasilkan tidak lebih dari 0,1 ppm. Pada berbagai jenis komoditas buah, jumlah ethilen yang dihasilkan tidaklah sama. Begitu juga pada bagian-bagian dari buah itu sendiri, antara ujung buah dengan bagian tengah buah misalnya, tidak sama dalam menghasilkan hormon etilen. Oleh karena itu, adanya produksi etilen ini sangat penting diperhatikan, karena jika tidak dikendalikan akan menyebakan kerusakan buah. Dalam kondisi tertentu, adanya etilen ini mampu meningkatkan suhu hingga 30 OC serta mengurangi jumlah O2 sampai 8% dan atau meningkatkan CO2 hingga lebih dari 2% (Kader, 1985).

Padahal kita tahu bahwa komposisi perbandingan CO2 dan O2 pada ukuran tersebut akan berpengaruh langsung terhadap tingkat kecepatan respirasi, dimana batas maksimal kadar CO2 untuk menghambat respirasi ialah 2%. Begitu pula jumlah minimal O2 juga 2%. Hal ini dikarenakan jika CO2 berlebih dan O2 yang terlalu rendah (< 1%), maka akan menyebabkan physiological breakdown. Tanda paling mudah dikenali ialah terjadinya respirasi anaerob yang akan menghasilkan alkohol.

Penanganan Pasca Panen Buah-buahan
Penanganan yang terbaik terhadap komoditas buah-buahan, sebenarnya tidak hanya dimulai dari pasca panen (postharvest), tetapi dimulai dari sebelum panen (preharvest). Misalnya dengan melakukan perawatan yang intensif terhadap tanaman, sehingga buah yang dihasilkan terbebas dari serangan hama maupun penyakit. Tetapi memang sebaliknya, tanpa penanganan pasca panen yang tepat, maka sebaik apapun perawatan yang dilakukan sebelum panen, tidak dapat menjamin terbebasnya komoditas buah dari kerusakan (stress). Oleh karena itu, berikut ini akan dijelaskan faktor-faktor penting dari lingkungan eksternal yang harus dikendalikan serta beberapa penanganan pasca panen yang tepat terhadap komoditas buah-buahan agar tetap memiliki kualitas sebagai buah segar (fress fruit quality).
Suhu / Temperatur – Suhu yang paling baik untuk penyimpanan buah segar ialah suhu rendah. Telah diketahui bahwa dengan kenaikan suhu 10 OC akan menyebabkan kenaikan kecepatan kerusakan buah menjadi 2 – 3 kalinya.

Selain dapat menjaga kesegaran buah, penyimpanan buah dalam suhu rendah juga dapat mencegah tumbuhnya beberapa jenis jamur, seperti misalnya jamur Rhizopus. Namun demikian, penyimpanan dengan suhu yang terlalu rendah juga dapat mengakibatkan terjadinya chilling injury. Pada umumnya, untuk komoditas buah-buahan akan tetap baik kualitasnya jika disimpan diatas titik bekunya; 5 – 15 OC (Kader, 1985). Perlu diketahui bahwa kerusakan akibat suhu dingin ini, lebih rentan terjadi pada buah-buahan tropis. Sedangkan pada buah-buahan sub tropis (anggur, cherry, pear, buah kiwi) hampir tidak terpengaruh oleh suhu dingin. Baru pada penyimpanan suhu beku, buah-buahan tersebut juga akan mengalami freezing injury.

Kelembaban – Kelembaban udara yang ideal bagi komoditas buah-buahan ialah kelembaban yang tinggi (85 – 95%). Untuk menjaga agar tetap dalam kondisi lembab ini dapat digunakan berbagai macam cara misalnya; dengan menyemprotkan sedikit air denga humidifier, mengatur sirkulasi udara dengan membuat ventilasi, membasahi (wetting) lantai ruang penyimpan, dan terakhir dengan menjaga suhu udara pada koil refrigerator tetap 1 OC (Kader, 1985).
Susunan Udara – Komposisi gas C02 dan 02 yang paling baik ialah dalam kondisi tertentu yang dapat menghambat berlangsungnya proses respirasi sehingga mencegah terjadinya kerusakan atau memperpanjang umur simpan buah. Oleh Pantastico (1975) disebutkan bahwa adanya konsentrasi oksigen yang rendah akan menyebabkan laju respirasi dan oksidasi substrat menurun, produksi etilen rendah, laju degradasi pektin menjadi lambat, pembentukan asam askorbat berkurang, penundaan perombakan klorofil, serta pematangan buah menjadi tertunda, sehingga umur simpan buah menjadi lebih lama.
Sedangkan konsentrasi CO2 yang tinggi akan menyebabkan penurunan reaksi – reaksi sintesis pematangan, penghambatan beberapa kegiatan enzimatik, penurunan produksi atsiri dan asam-asam organik, serta perubahan perbandingan berbagai macam zat gula. Dari hasil penelitian, dilaporkan bahwa batas minimal pengurangan O2 pada suhu -0,5 sampai 3, 5 0C ialah 2%. Sedangkan batas maksimal kenaikan kadar CO2 ialah 3%. Tetapi penentuan angka-angka ini lebih ditentukan oleh jenis buah dan varietasnya.

Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa ketiga faktor eksternal (suhu, kelembaban, dan konsentrasi atmosphere) berpengaruh terhadap kualitas buah segar pasca panen, oleh karena itu berikut ini akan dipaparkan beberapa perlakuan yang umum dilakukan dalam penanganan buah-buahan, khususnya di daerah tropis Indonesia.

1) Pemeraman
Pemeraman merupakan proses untuk merangsang pematangan buah agar matang merata. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode pemeraman ialah sifat biologis/fisiologis dari komoditas buah tersebut. Sampai saat ini masih dikenal metode pemeraman cara tradisional, yaitu dengan menggunakan daun mindi (Melia azedarach) atau daun picung (Pangum edule) dan dengan pengasapan/pengemposan. Sedangkan cara pemeraman yang lebih modern ialah dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti; karbit (asetilen), gas etilen, dan ethrel (ethepon).

2) Perlakuan Karantina
Yaitu penyimpanan yang dilakukan dalam suatu ruangan tertentu yang bertujuan untuk mempertahankan daya simpan buah dan melindungi komoditas buah dari kerusakan. Penyimpanan ini dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah, pengendalian atmosfir hipobarik, atau menggunakan suhu kamar. Pemilihan suhu ini harus memperhatikan sifat-sifat fisiologis dari buah yang akan disimpan, karena masing –masing komoditas memiliki suhu optimum penghambatan proses fisiologis yang mengarah pada senescance (lewat matang) yang pada akhirnya menyebabkan buah busuk.

3) Pengemasan
Merupakan perlakuan yang paling menentukan dalam proses penjagaan kualitas buah agar terhindar dari kerusakan. Pengemasan ini dilakukan dengan pertimbangan yang paling penting ialah sifat permeabilitas dari bahan pengemas. Semakin besar ukuran pori atau permeabilitasnya tinggi, maka semakin besar pula laju difusi (gerak molekul) yang melewati plastik pengemas. Meskipun plastik jenis polietilen memiliki permeabilitas yang tinggi, tetapi dilaporkan kurang cocok digunakan sebagai bahan pengemas buah dalam kondisi tertutup rapat (Pantastico, 1989).

4) Transportasi / Pemasaran.
Terakhir, yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan produk buah-buahan mulai dari lapangan (tempat pengumpulan hasil panen) sampai ke konsumen akhir ialah; sifat/ karakteristik dari komoditas buah yang diangkut, lamanya perjalanan, serta alat/sarana pengangkutan yang digunakan. Selama pengangkutan sebaiknya dihindari adanya kontak langsung dengan sinar matahari. Hal ini akan mempercepat terjadinya proses transpirasi sehingga menyebabkan buah mengalami penurunuan tingkat kesegaran.
Kondisi ruang (container) yang digunakan juga harus memenuhi standar, yaitu meliputi suhu ruang, kelembaban udara, sirkulasi udara, serta pengontrolan konsentrasi gas CO2 dan O2. Penataaan kemasan dalam kontainer diusahakan agar tidak terjadi gesekan atau benturan yang menyebabkan buah memar. Pengangkutan komoditas dengan muatan yang berlebihan dapat menyebabkan tekanan pada buah dan menimbulkan panas yang dapat mempercepat berlangsungnya proses respirasi. Hal ini terjadi, terutama pada peroses pengangkutan yang memerlukan waktu lebih dari 2,5 jam. Jika kondisi ini semua tidak diperhatikan, dikhawatirkan ketika akan dipasarkan buah tersebut sudah tidak layak jual.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: