Food for Healthy

Home » Food Issues » Siapa Terkecoh Nata de Coco

Siapa Terkecoh Nata de Coco

Sekian kali kita dihebohkan oleh kasus-kasus keamanan pangan. Namun sekian kali itu pula kita seperti tidak pernah belajar; bagaimana menyikapi dengan bijak terhadap munculnya kasus-kasus serupa. Kasus terkini adalah terungkapnya “penyalahgunaan” pupuk ZA (Zwavelzure ammoniak) pada pembuatan nata de coco yang terjadi di Sleman, Yogyakarta. Di tempat lain juga terjadi penggerebekan terhadap belasan pabrik rumahan nata de coco yang berada di Kab. Ciamis, Jawa Barat. Dengan adanya pemberitaan yang cukup massif oleh media, akibatnya banyak masyarakat yang menjadi khawatir atas apa yang telah mereka konsumsi selama ini. Selain itu, banyak “petani nata” yang merugi, akibat penurunan omzet bahkan sampai penghentian produksi.

Badan POM sebagai otoritas penanggung jawab keamanan pangan di Indonesia telah menyampaikan siaran press-nya melalui website http://www.pom.go.id. Tetapi masih disayangkan karena tidak tertulis dengan jelas apakah penggunaan pupuk ZA dalam pembuatan nata de coco tersebut berbahaya ataukah tidak? Hanya disebutkan kemungkinan adanya potensi cemaran logam berat dan anjuran menerapkan GMP (Good Manufacturing Practice).

Di lain pihak, akademisi dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM yang dianggap oleh para petani nata turut berperan dalam memberikan saran penggunaan pupuk ZA, sepertinya mengelak dan “cuci tangan”. Padahal sudah lama menjadi pemahaman umum, bahwa penggunaan pupuk ZA dalam pembuatan nata, baik dalam skala penelitian maupun industri rumah tangga, dikarenakan harganya yang lebih murah dan mudah didapat.

Status Keamanan Nata de Coco

Jika dilihat dari kandungan gizinya, nata de coco memiliki serat yang cukup tinggi, sebaliknya kalori yang rendah. Hal ini sangat baik dikonsumsi terutama untuk mencegah penyakit sembelit dan obesitas. Namun dengan terungkapnya industri kecil pengolahan nata de coco yang menggunakan pupuk ZA sebagai sumber nitrogen dan belerang pada pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum, memunculkan kekhawatiran di masyarakat akan status keamanan nata de coco.

Meskipun pupuk ZA (fertilize grade) bukan termasuk Bahan Tambahan Pangan (food additive), tetapi senyawa ZA atau Ammonium sulfat (NH4SO4) adalah termasuk BTP yang diperbolehkan (food grade), yaitu sebagai pengembang adonan kue dan pengatur keasaman. Dalam penggunaannya tidak perlu berlebihan yaitu cukup 0,5% atau 0,5 gram tiap satu liter air kelapa. Hal ini dikarenakan apabila berlebihan maka akan dapat menghambat produktivitas bakteri Acetobacter xylinum dalam menghasilkan selulosa akibat suasana yang terlalu asam oleh ion sulfat, sehingga tingkat ketebalan lapisan nata yang dihasilkan tidak optimal.

Persoalannya bukan pada seberapa banyak jumlah ZA yang ditambahkan, tetapi pada seberapa banyak cemaran ikutan dari pupuk ZA yaitu logam berat yang terdapat pada produk akhir nata de coco. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Siti Nurjanah IPB (2009), disebutkan bahwa cemaran logam Pb dan Zn pada produk akhir melebihi batas maksimum 0,2 ppm untuk logam Pb dan 5 ppm untuk logam Zn. Tetapi hal ini bukan berarti berasal dari pupuk ZA, dikarenakan pada pupuk ZA sendiri tidak terdeteksi adanya kandungan logam Pb. Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh penggunaan peralatan yang tidak bersih, bahan baku air yang digunakan serta penggunaan kertas koran.

Penelitian lain oleh Siti Kholifah IPB (2010) menyebutkan bahwa kandungan logam berat pada pupuk ZA yaitu logam seng (Zn), tembaga (Cu), timah (Sn) dan Arsen (As) masing-masing 18.65 ppm, 1.05 ppm, 42.4 ppb dan  13.32 ppb. Namun dengan dilakukannya proses pengolahan lebih lanjut berupa penekanan (pressing), pengembangan, pencucian, pembilasan dan perebusan dapat menurunkan kandungan logam-logam berat tersebut sehingga dapat memenuhi persyaratan dalam SNI No. 01-4317-1996 tentang nata de coco.

Dengan hasil penelitian tersebut, maka jelas bahwa status keamanan nata de coco yang pembuatannya menggunakan pupuk ZA masih dapat diterima, dengan syarat proses produksinya menggunakan CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik). Namun kedepan, akan lebih baik dan lebih aman lagi tentunya bila menggunakan Amonium sulfat kategori food grade seperti yang disarankan oleh Badan POM dan juga akademisi FTP UGM. Sayangnya saat ini, para petani nata masih mengalami kendala dalam mendapatkan ZA food grade tersebut, dikarenakan belum tersedia secara luas di toko bahan kimia maupun toko bahan tambahan pangan.

Dari sisi ekonomi, penggunaan ZA food grade memang memiliki harga yang lebih mahal empat kali lebih tinggi jika dibandingkan pupuk ZA non subsidi. Harga ZA food grade dipasaran sekitar 11.000/kg. Sedangkan pupuk ZA non subsidi sebesar Rp. 2.450 – 2.550/kg. Akan berbeda lebih banyak lagi jika dibandingkan dengan pupuk ZA subsidi yang telah ditetapkan HETnya oleh Kementan sebesar Rp. 1.400/kg. Namun penggunaan pupuk ZA subsidi untuk pembuatan nata de coco jelas melanggar aturan, dikarenakan pupuk tersebut merupakan barang terbatas yang diawasi peredarannya dan peruntukannya adalah untuk para petani tanaman pangan atau Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).

Dari sisi ekonomi, memang perlu diperhitungkan lagi oleh para petani nata terkait modal yang meraka keluarkan tentu akan lebih besar jika menggunakan ZA food grade. Tetapi jika hal ini berdampak positif pada kesehatan dan keberlanjutan produksi nata itu sendiri, maka sudah selayaknya kita semua mendukung perubahan ini. Apalagi akhir tahun ini kita akan memasuki pasar bebas ASEAN (MEA) sehingga produk lokal kita mau tidak mau harus siap bersaing dengan produk-produk dari negara ASEAN lainnya.

Penutup

Dengan adanya kasus ini, dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua agar tidak sampai terkecoh lagi, baik itu pemerintah dalam hal ini Badan POM, Dinas Kesehatan, BPTP maupun pihak Kepolisian, termasuk juga para wartawan dan akdemisi agar lebih hati-hati dalam menyampaikan berita dan informasi sehingga menjadi kegaduhan di masyarakat. Selain itu, bagi pemerintah diupayakan untuk terus meningkatkan program-program pengawasan maupun pembinaannya terhadap industri kecil (UKM/IRTP) dan juga terus melakukan sosialisasi terkait dengan hasil kajian maupun peraturan-peraturan tentang standar mutu produk-produk pangan, jenis-jenis BTP yang diperbolehkan maupun tata cara penggunaannya sehingga tidak lagi terjadi penyalahgunaan bahan tambahan pangan yang dilarang/bahan berbahaya pada produk-produk pangan.

Umar Saifudin

Referensi :

  1. Siti Nurjanah, 2009, Korelasi antara Penggunaan Urea dengan Kandungan Logam Berat Pada Fermentasi Nata de Coco serta Alternatif Sumber Nitrogen Pengganti Urea. Ilmu dan Teknologi Pangan IPB: Bogor. (http://web.ipb.ac.id/~lppm/lppmipb/penelitian/hasilcari.php?status=buka&id_haslit=HB/043.09/NUR/k)
  2. Siti Kholifah, 2010, Pengaruh Penambahan ZA dan Gula terhadap Karakteristik Fisik, Organoleptik dan Kandungan Logam Nata de coco, IPB : Bogor. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/59939/F10skh.pdf?sequence=1
  3. http://www.tristarchemical.com/index.php?option=com_content&task=view&id=558&Itemid=80
  4. http://www.fertibros.com/index.php/dolomite/86-surabaya
  5. http://www.pertanian.go.id/assets/upload/doc/Permentan_Kebutuhan_dan_HET_2015.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: