Food for Healthy

Home » Food Technology » Beras Analog, Beras Sehat Kaya Manfaat

Beras Analog, Beras Sehat Kaya Manfaat

Mari kita mengenal beras, sesuatu yang dekat sekali dengan keseharian kita. Hampir setiap hari kita menikmatinya, menyantapnya untuk memenuhi kebutuhan energi dan aktifitas kerja. Tetapi apakah kita sudah mengenalnya sedemikian rupa, sehingga kita merasa sayang? Yah, merasa sayang (mubadzir) jika masih ada sebutir nasi tersisa di bekas piring makan kita.

Di Indonesia terdapat lebih dari 176  varietas padi (Oryza sativa L.). Namun hanya beberapa diantaranya yang sering kita jumpai. Ada padi jenis IR 64/Setra Ramos, IR 42, Gogo rancah, Rojolele, Pandanwangi, Ciherang, Mutiara/Martapura dsb. Masing-masing memiliki ciri khas, terutama dalam kandungan amilosanya yang menjadi penentu tingkat kepulenan nasi. Beras dengan kadar amilosa tinggi, akan menghasilkan nasi yang ‘pera’ seperti beras Banjarmasin yang dikenal dengan beras Mutiara atau beras pada nasi Padang. Sebaliknya beras yang kandungan amilosanya rendah, akan menghasilkan beras yang pulen atau lunak seperti kebanyakan jenis nasi yang ada di Jawa.

Beberapa waktu terakhir, kita dihadapkan pada persoalan beras, mulai dari naiknya harga beras hingga pemalsuan beras dari plastik. Tentu hal ini meresahkan masyarakat dikarenakan beras merupakan (masih) makanan pokok sehari-hari. Namun dibalik itu, sebenarnya ini menjadi peluang dan tantangan kita untuk tetap survive tidak selalu menggantungkan pada beras. Selain para petani kita tetap berupaya meningkatkan produksi beras nasional dalam rangka mewujudkan swasembada pangan (beras), upaya lain adalah dengan menurunkan konsumsi beras dan menggantinya dengan beras sintetik (bukan beras plastik) atau yang lebih dikenal dengan beras analog.

Beras Analog, Beras Sehat (Healthier Rice) Kaya Manfaat

Dengan adanya kenaikan harga beras serta kontaminasi plastik pada beras, maka sebenarnya saat ini adalah kesempatan bagi kita untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat adanya pengganti nasi beras, yaitu beras analog atau designed rice. Beras analog adalah beras tiruan non padi yang dibuat dengan proses granulasi ataupun ekstrusi yang berasal dari sumber karbohodrat/pati tanaman lokal baik dengan fortifikasi (vitamin dan mineral) ataupuan tidak, sehingga tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat (sumber).

Proses Pembuatan Beras Analog  ISO_double_steel_synthetic_rice_equipment (1)

Berbagai penelitian yang telah dilakukan untuk menciptakan beras tiruan yang sehat dan bergizi, salah satunya adalah dari Food Technopark IPB. Mereka telah memproduksi, -meski masih dalam skala kecil di daerah Jawa Timur- beras analog dengan komposisi 40% tepung jagung, 30% tepung sorgum dan 30% tepung sagu. Selain itu, beras analog juga dapat dibuat dari tepung singkong atau dikenal dengan MOCAF (Modified Cassava Flour) atau juga ubi jalar, ubi ungu dan bahkan juga buah bakau/Mangrove yang dikenal dengan nama buah lindur.

Artificial_rice_machine_rice_shaping_machine Beras Analog Ubi Jalar

Dengan komposisi yang beragam, selain kebutuhan energi akan tetap tercukupi, kandungan protein dan serat juga tetap terpenuhi. Bahkan beras analog memiliki keunggulan yaitu indeks glikemik yang rendah, sehingga sangat cocok pagi penderita diabetes. Meskipun dari sisi harga masih relatif mahal (kisaran 14000rb/kg), tetapi dengan kualitas gizi yang baik, selayaknya dapat lebih dikembangkan oleh pemrintah maupun sektor industri untuk menangkap adanya peluang ini.

Dalam pengolahannya pun hampir sama dengan menanak nasi biasa, hanya saja beras analog dimasak tidak bersamaan dengan air tetapi dimasukan kedalam rice cooker setelah air mendidih. Selin itu, perbedaan dengan nasi biasa adalah dalam hal tekstur, beras analog akan menghasilkan nasi yang lebih lunak dibanding nasi biasa, sehingga mungkin kurang cocok bagi yang sudah terbiasa dengan beras pera (kemepyur).

Beras Analog Jagung   beras-analog    

Melihat dan mempertimbangkan itu semua, diharapkan bagi pemerintah meningkatkan produksi sumber pati selain padi, seperti dari umbi-umbian, jagung, sagu dan sorgum juga mendukung sektor swasta terutama industri kreatif untuk mengembangkan dan memproduksi beras analog, serta lebih mensosialisasikan kepada masyarakat akan nilai lebih designed rice ini. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional tetap dapat dipertahankan. Seiring tentunya dengan peraturan dan pengawasan dari pemerintah terhadap produk-produk sejenis artificial rice atau beras sintetis ini tentunya harus dipersiapkan dan ditingkatkan.

Sumber :

1. http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11063

2. http://foodreview.co.id/preview.php?view2&id=56643#.VWHalNIirIU

3. http://www.sucofindo.co.id/berita-terkini/2000/diversifikasi-pangan:-beras-analog-sukses-dikembangkan.html

4. http://gopanganlokal.miti.or.id/index.php/diversivikasi-pangan-dengan-beras-analog

5. http://ipbmag.ipb.ac.id/opini/0d1546d40ad9d59a6471e2ee0720cd6f/Pengembangan-Beras-Analog-Berbasis-Buah-Lindur-Sagu-Dan-Kitosan-Dalam-Mendukung-Ketahanan-Pangan-Nasional-Berkelanjutan

6. http://www.indonesiapanen.com/388/beras-analog-diversifikasi-pangan-dari-ipb/

7. http://majalah1000guru.net/2014/05/beras-analog/

8. http://ketahananpangannunukan.blogspot.com/2012_08_01_archive.html

9. http://indonesian.alibaba.com/product-gs/china-low-price-synthetic-rice-equipment-1630262199.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: