Food for Healthy

Home » Food Issues » Dari Mana Masuknya Bahan Plastik dalam Beras Sintetik?

Dari Mana Masuknya Bahan Plastik dalam Beras Sintetik?

Kasus pemalsuan beras asli dengan beras sintetis (pengoplosan) yang diduga menggunakan bahan kimia berbahaya dalam proses pembuatannya masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Meski banyak yang tidak peduli atau bersikap “dingin”, tetapi bagi seorang food analyzer, adanya kasus ini membuka keasadaran akan pentingnya saling mengingatkan dan mengedukasi masyarakat agar lebih hati-hati dan waspada dengan makanan yang kita makan.

Hasil uji dari laboratorium Sucofindo telah disampaikan ke publik bahwa beras palsu/beras oplosan yang ditemukan menunjukan adanya kandungan bahan plastik (plasticizer) polivinyl chlorida (PVC) bernama benzyl butil phtalate (BBT), di (2-ethylhexyl) phthalate (DEHP) dan diisononyl phthalate (DINP). Hal ini menandakan bahwa telah terjadi penyalahgunaan bahan kimia berbahaya dalam makanan. Jika selama ini kita hanya membaca berita bahwa kejadian extraordinary crime tersebut hanya terjadi di negara tetangga, seperti Cina, Korea dan Hongkong, saat ini bahaya tersebut telah datang mendekati kita.

Dilihat dari sisi teknologi pangan, pembuatan beras sintetis atau lebih tepat disebut dengan beras analog, fungsi plasticizer ini sebenarnya cukup diperankan oleh air. Fungsi penambahan air dalam pembuatan beras analog pada saat pre-kondisi atau pencampuran adonan tepung (mixing) adalah sebagai bahan pelunak (plasticizer). Tetapi setelah melalui proses ekstrusi, biasanya mengalami kelengketan serta terbentuk rantai pada butiran-butiran beras analog yang dihasilkan. Namun hal ini dapat diatasi dengan penambahan lapisan teflon (polytetraflouro ethylene) pada pisau mesin ekstruder, dan penambahan glicerol monostearat sebagai emulsifier.

Akan tetapi yang terjadi pada pembuatan beras palsu, menurut hemat penulis, bahan tambahan pangan (BTP) glicerol ini kemungkinan diganti dengan plasticizer non food yaitu Bis (2- ethylhexyl) phthalate (DEHP) atau juga dinamakan diocyl-phthalate (DOP) yang harganya relatif lebih murah. DOP inilah biasanya digunakan sebagai plasticizer dalam industri pembuatan PVC (poly vinyl chloride). Padahal, gliserol itu sendiri tengah diupayakan untuk digunakan sebagai pengganti DOP dalam pembuatan plastik tempat makanan agar lebih aman dan ramah lingkungan.

Kemungkinan kedua, jika memang tidak dengan sengaja dilakukan penyalahgunaan (adulterasi), maka kemungkinan yang terjadi adalah adanya kontaminasi bahan plastik (plasticizer) tersebut pada saat pembuatan beras sintetis, entah itu dari bahan bakunya atau dari glicerol itu sendiri yang kualitas rendah. Faktanya di lapangan adalah, beras plastik tersebut dioplos dengan beras asli lainnya, yaitu beras Setra Ramos sehingga sekilas tidak ada perbedaan, namun setelah dimasak baru terlihat adanya keanehan, yaitu air yang ditambahkan pada saat membuat bubur tetap memisah dan bubuh yang dihasilkan terasa kenyal seperti agar-agar (sumber video).

DOP (Dioktil Phtalate) atau DEHP (Bis 2-ethylhexy phtalate)

DOP (Dioktil Phtalate) atau DEHP (Bis 2-ethylhexy phtalate)

Struktur DOP

Struktur DOP

Plasticizer Market

Plasticizer Market

Hasil Analisis GC MS DOP

Hasil Analisis GC MS DOP

Kontaminasi bahan plastik (plasticizer) pada produk pangan, sebenarnya telah banyak ditemukan. Seperti yang terjadi pada pertengahan Mei, tahun 2011, pejabat pemerintah Taiwan telah mengumumkan bahwa dua perusahaan makanan di Taiwan yaitu Yu Shen Chemical Co dan Pin Han Perfumery Co, terbukti telah menggunakan plasticizer DNIP sebagai cloudy agent. Untuk menangani masalah tersebut Pemerintah Taiwan telah melakukan penarikan besar-besaran terhadap produk terkontaminasi serta melakukan pelarangan export produk tercemar, diantaranya meliputi sirup, tablet, pastries, dan powders. Penarikan ini belum pernah sebelumnya dilakukan oleh pemerintah Taiwan. Sebelumnya mereka melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap 16.000 produsen makanan dan outlet serta telah melarang dan menarik lebih dari 20.000 produk dari peredaran (sumber disini dan disini)

Produk Pangan taiwan yang ditarik karena tercemar DOP

Produk Pangan taiwan yang ditarik karena tercemar DOP (2008)

Semoga dengan peristiwa ini, pemerintah semakin serius dalam menangani persolan pangan sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Seperti amanat UU Pangan No. 18 Tahun 2012, pemerintah berkewajiban untuk membentuk Badan Otonomi Pangan yang bertanggung jawab langsung dibawah Presiden, 3 tahun sejak UU tersebut ditetapkan. Meskipun hal tersebut bukanlah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah keamanan pangan, tetapi harapannya otoritas yang selama ini dipegang oleh banyak pihak, mulai dari Badan POM, Kementan, Kemendag, Bulog dan Pemda semakin solid dengan dimoderatori oleh Badan Otonom Pangan tersebut.

Ah, kita tunggu saja ending-nya kasus ini nanti seperti apa? Apakah akan sama seperti kasus heboh penggunaan pupuk NPK dalam pembuatan Nata de Coco kemarin yang hanya hangat sebentar, kemudian hilang begitu saja dilupakan?

Sumber :

1. Teknologi Ekstrusi Pembuatan Beras Analog

2. Interaksi Air dalam Pangan sebagai Plasticizer

3. http://indonesian.alibaba.com/goods/glycerol-monostearate-price.html

4. http://nasional.kompas.com/read/2008/08/22/20335081/plastik.ramah.lingkungan.dari.kelapa.sawit


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: